Saingan agen asuransi

​Saingan agen asuransi bukanlah sesama agen asuransi baik satu merk ataupun merk lain. Saingan sesungguhnya agen asuransi adalah kepastian hidup (tutup usia, usia terlalu tua, penyakit kritis dan cacat tetap total). 
Karena jika calon nasabah kita sudah membeli asuransi jiwa/kesehatan, kita masih ada kesempatan menjual selama calon nasabah kita kondisi kesehatan masih bagus, namun sekalinya calon nasabah sudah ada record penyakit ataupun cacat, maka kemungkinan diterima oleh perusahaan asuransi adalah kecil. Ada beberapa keputusan dalam underwriting : 

1. standar : diterima dengan biaya dan manfaat standar

2. substandar : diterima dengan biaya dan kondisi tertentu. Ada beberapa jenis keputusan substandar, antara lain : 

  • Exclusion : dikecualikan untuk kondisi, manfaat tertentu. 
  • Extra premium : biaya asuransi lebih mahal dari biasanya 

3. posponed : ditangguhkan pengajuan asuransinya.

4. declined : ditolak pertanggungan asuransinya. 

Life insurance bisa dibeli saat calon nasabah hidup dan sehat. Banyak orang menunda membeli asuransi karena merasa dirinya sehat walafiat. Justru karena calon nasabah sehat, maka tugas agen asuransi melakukan edukasi dan kadang dibutuhkan ngotot dari seorang agen asuransi karena seorang agen asuransi berpacu dengan waktu yang tidak pasti dari kepastian hidup yang dihadapi setiap manusia (tua, sakit, tutup usia). 

Setiap orang adalah SALESMEN

Saat saya melakukan perekrutan, sering sekali saya menemukan kalimat “saya bisa menjual, saya tidak pintar ngomong“. Apakah hal tersebut benar? Saya mengingat kembali pekerjaan saya sebelumnya, saya merenung dan mengenal pribadi saya. Dan saya tidak setuju 100%. Kenapa?

  1. Background pendidikan saya adalah Sarjana Komputer jurusan Sistem Informasi.
  2. Setelah lulus kuliah, mulai bekerja di bidang IT sebagai database staff dan programmer
  3. Temperamen dasar saya adalah Plegmatis, dimana saya tidak heboh dan ekspresif seperti orang Sanguin.

Lalu apa yang buat saya akhirnya banting setir dan terjun ke dunia marketing di industri asuransi? Saya bukan orang hebat, saya hanya belajar dan memahami.

Jika kita telaah, apa sih sebenarnya dunia marketing/sales? Apakah penjualan hanya milik orang-orang yang terjun di marketing/sales? Seorang akuntan sekalipun adalah seorang sales. Lho koq bisa? Akuntan kan pekerjaannya membereskan pembukuan? Benar. Tapi sebelum seseorang mulai bekerja sebagai akuntan, sebelumnya dia melewati proses yang namanya perekrutan oleh bagian personalia sebuah perusahaan. Pada saat interview, biasanya bagian personalia akan menanykan pertanyaan, “coba ceritakan apa alasan perusahaan kami harus menerima anda untuk pekerjaan yang anda lamar?” dan biasanya sang akuntan akan memaparkan kelebihan dan kontribusi yang bisa diberikan dirinya kepada perusahaan tersebut. Dan bukankah pada saat tersebut si akuntan sedang melakukan proses marketing buat dirinya sendiri? Kemudian pada saat perusahaan deal dengan si akuntan, akuntan tersebut akan mulai bekerja, menjual waktu, skill dan knowledge nya kepada perusahaan tempat dia bekerja.

Jual beli adalah proses yang selalu terjadi dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita menjadi pembeli, ada kalanya kita menjadi penjual. Saya percaya setiap produk / jasa tercipta untuk menjawab kebutuhan. Dan lewat proses jual beli tersebutlah kebutuhan terpenuhi. Menjadi seorang penjual tidak selalu adalah orang  yang pintar ngomong, tapi adalah orang yang mengerti dan memahami kebutuhan orang lain, mengerti dan memahami produk/jasanya, dan mengerti dan memahami bagaimana produk/jasanya dapat menjawab kebutuhan yang ada. Selling is simple.

 

Double summit Arjuno Welirang (tujuan yang sama)

Sudah lama saya tidak pergi naik gunung semenjak saya berjanji sama mama saya bahwa saya tidak akan naik gunung lagi. Dan setahun berjalan, sampai akhirnya datang ajakan dari teman saya, Rizal Agustin, ke gunung Arjuno dan Welirang. Ajakan tersebut sempat membuat galau. Bagi saya janji tetap harus ditepati. Jika sebelumnya saya naik gunung sering tanpa ijin mama, tapi kali ini saya tidak bisa melakukan hal tersebut lagi. Bukan tentang hobi saja, tapi adalah tentang puncak Arjuno dan Welirang yang membuat saya sulit untuk menjawab “tidak”. Akhirnya dengan perjuangan yang dibantu papa, akhirnya saya mendapat ijin resmi dari mama untuk bisa menjejakkan kaki lagi di alam bebas, menikmati suasana alam yang bebas dari hiruk pikuk kota.

Dan hari itupun tiba, kami berlima, bertemu di Surabaya.  Yang saya kenal dan pernah nanjak bareng hanya ijal. Yang lainnya saya hanya tahu lewat group whatsaap. Berkenalan dan mulailah perjalanan untuk menuju ke Arjuno dan Welirang lewat jalur Purwosari – Tretes.

Selangkah demi selangkah kami berjalan. Meskipun kecepatan langkah kaki kami berbeda, tapi kami tetap bisa bersama-sama sepanjang perjalanan. Ada banyak cerita sepanjang perjalanan. Dan dari cerita-cerita singkat kami sepanjang jalan, ternyata kami semua melakukan perjalanan kali ini dengan alasan dan cerita masing-masing yang berbeda. Ada yang melakukan perjalanan untuk pembuktian diri, ada yang untuk melepas galau, ada yang untuk menenangkan pikiran dan hati, ada yang ingin menikmati alam, ada yang ingin membangun persahatabatan yang baru, dan saya sendiri mendaki Arjuno dan Welirang karena saya pernah ada janji dengan almarhum Thony Irwan untuk ke Arjuno dan Welirang tapi batal. Pendakian ini adalah pendakian mengenang almarhum, pendakitan memenuhi janji.

Satu hal yang paling saya pelajari dari pendakian kali ini adalah meskipun kami datang dari latar belakang yang berbeda, alasan yang berbeda, cara dan kepribadian yang berbeda, tapi kami punya satu tujuan yang sama yaitu puncak Arjuna dan Welirang. Karena visi yang sama, kami bisa saling mendukung satu sama lain, saling berbagi satu sama yang lain, dan kerja sama tim yang kompak yang membawa kami melakukan double summit Arjuno dan Welirang.